Pialapresiden.web.id – Kepemimpinan wasit terbaik piala presiden 2019, Nusur Fadilah, membuat Manajer Bhayangkara FC yaitu AKBP Sumardji geram dan marah atas kekalahan timnya 0 – 2 dari tim sepak bola PSM Makassar pada kedua babak delapan besar piala presiden 2019 Indonesia yang berlaga distadiun Mattoangin.
Sumardji menilai sepakan bebas dari bek bhayangkara fc, Anderson Salles. Pada menit ke 28 seharusnya menjadi sebuah gol kepada timnya. Sepintar dari putaran tayangan ulang dari bola yang membentur tiang gawang lebih dulu melewati garis gawan PSM Makassar.
Manajer Bhayangkara FC kecewa atas kinerja dari wasit tersebut. Namun yang terjadi adalah Sumardji menuntun PSSI dan satuan tuga antimafia bola memeriksa nusur. Dia menyebutkan bahwa wasit tersebut layak untuk mendapatkan hukuman larangan memimpin kompetisi di Indonesia selama seumur hidup.
“Wasit tersebut harus diperiksa, PSSI harus ikut serta turun tangan. Dalam hal ini harus ada tindakan. Seperti hukuman seumur hidup”, ujar dari sumardji ketika diwawancarai oleh wartawan. Sumardji juga menilai tak hanya wasit Nusur, Namun asisten wasit yang memimpin jalannya pertandingan juga patut ikut diberikan saksi juga. “wasit semua harus dihukum atau diberikan sanksi. Jika asisten wasit tidak melihat gol tersebut, ya itu tidak benar”, ujar sumardji.
Sebelum mulainya pertandingan, Sumardji sempat menganggap wasit nusur akan melaksanakan tugasnya dengan secara profesional. Pengadil pertandingan asal bekasi itu berpredikat wasit terbaik piala presiden 2019 Indonesia. “Tadi saya sudah sempat prediksi wasit Nusur, saya berpikir wasitnya itu benar-benar melaksanakan tugasnya dengan fair play. Padahal dia baru dapat predikat wasit terbaik Piala Presiden 2019. Tapi, nyatanya semua salah atau tidak benar,” kata Sumardji.
Akibat dari kekalahan yang diterima tim Bhayangkara FC, Tim tersebut tersingkir dari piala presiden 2019.Tim berjulukan The Guardian itu kalah gol tandang meski agregat pertemuan kedua tim imbang 4-4.
