Piala presiden- Liga 1 Indonesia atau sekarang dikenal dengan Liga Shopee 1 Indonesia merupakan kasta tertinggi ajang sepakbola di Indonesia.
Liga 1 Indonesia selalu menyajikan pertandingan-pertandingan menarik dengan menghadirkan klub-klub dari seluruh wilayah Indonesia.
Sehingga, banyak cerita-cerita menarik yang terjadi, mulai dari kebangkitan klub hingga harus rela turun kasta atau terdegradasi.
Klub Terdegradasi
1. PSPS Pekanbaru
Tahun 2013 merupakan tahun menyakitkan buat klub perwakilan kota Pekanbaru karena harus turun kasta dari Liga Super Indonesia.
Kala itu, PSPS Pekanbaru hanya mampu mengumpulkan 17 poin saja. Dimana PSPS hanya meraih 4 kemenangan, 5 hasil imbang dan 25 kalah.
Meskipun sudah lebih dari 7 tahun, namun PSPS Pekanvaru belum mampu naik kasta, melainkan tetap bertengger di Liga 2.
2. Persijap Jepara
Setahun setelah PSPS Pekanbaru terdegradasi, kini giliran Persijap Jepara yang harus turun kasta dari Liga Super Indonesia.
Ketika itu, Persijap hanya mampu mengoleksi 8 poin pada akhir musim. Jumlah poin tersebut diraih berkat dua kemenangan, dua kali imbang dan 16 kali kalah.
Sama seperti PSPS hingga kini, Persijap belum lagi mampu kembali ke kompetisi elite Indonesia. Persijap baru masuk Liga 2 setelah menjuarai Liga 3 tahun 2019 lalu.
3. Persikab Bandung
Persikab Bandung justru terlebih dahulu mengalami nasib buruk di liga elit Indonesia. Yaitu tahun 2002, Persikab Bandung harus turun kasta.
Kala itu, Persikab Bandung merupakan klub dengan perolehan poin terendah dimana hanya sekali kemenangan, dua hasil imbang dan 19 kali kalah.
Hingga saat ini, Persikab Bandung belum pernah lagi mampu kembali ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia.
4. Persijatim
Persijatim merupakan klub berikutnya yang pernah merasakan musim yang sangat berat di sepak bola Indonesia tahun 1996/1997.
Kala itu Persijatim harus menelan pil pahit terdegradasi dengan cara menyakitkan, yaitu menempati dasar klasemen.
Persijatim hanya memperoleh 3 poin saja dengan meraih tiga kali imbang dan 17 kali menelan kekalahan.
Perolehan tersebut merupakan sejarah terburuk yang pernah ada dalam sejaran sepakbola profesional Indonesia.
