Piala Presiden- Berita bola Indonesia masih terkait seputar pembaharuan yang masih digarap oleh para pengurus PSSI yang terbilang masih baru. Dengan demikian, untuk bersaing dapat bersaing pada level Asia, masih perlu banyak perbaikan pada kekuatan klub.
Salah satu klub besar liga Indonesia pada masanya adalah Arema Malang. Namun, dengan perubahan drastis liga pada masa covid-19 yang hampir membubarkan klub tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, berbagai klub termasuk Arema kembali bangkit dan membangun skuad nya kembali. Namun tentunya dengan latihan yang sempat terputus dan kontrak para pemain yang tidak diperbaharui, Arema kewalahan membangun klub yang baru.
Kiper Arema Malang
Setelah Covid-19, PSSI kembali menyelenggarakan Liga 1. Alhasil Arema kewalahan dan beberapa musim haru spuas di klasemen bawah. Ketika Arema FC berkutat di zona degradasi Liga 1 2023-2024 sepanjang musim, penjaga gawang Julian Schwarzer Garcia membuat ceritanya sendiri.
Ia menarik perhatian banyak penggemar sepak bola dengan penampilannya yang impresif di tengah jatuh bangun tim menyelamatkan diri dari zona degradasi. Seperti diketahui, musim ini Arema FC memiliki masalah lini belakang yang cukup pelik.
Di awal musim, tim sudah kehilangan kapten Johan Alfarizi yang biasa diandalkan menjadi komando di jantung pertahanan. Kemudian, bek jangkung Ichaka Diara tampil tidak sesuai dengan ekspektasi. Masalah ditambah pelik dengan pemain-pemain yang kurang padu. Itu membuat Arema FC menjadi salah satu tim dengan pertahanan paling buruk di musim ini.
Di tengah masalah lini belakang tersebut, Julian Schwarzer muncul menjadi sosok pembeda. Ia telah main sebanyak 19 kali beruntun sejak bergabung pada pekan ke-4 lalu. Secara statistik, ia hanya mampu mengemas tiga cleansheet dan kebobolan 28 gol.
Namun, ia menjadi salah satu penjaga gawang yang paling sibuk dengan dengan melakukan total 86 penyelamatan penting untuk mencegah gawang Arema FC kebobolan lebih banyak lagi. Sebelum penjaga gawang berkebangsaan Filipina bergabung, tim sudah kebobolan 12 gol dari empat pertandingan atau dengan rasio kebobolan 3 gol tiap pertandingan. Saat dijaganya, rasio kebobolan Arema FC menurun drastis menjadi 28 gol dari 19 pertandingan atau 1,4 gol setiap pertandingannya.
Adapun dengan catatan statistik tersebut menunjukkan betapa kerasnya tekanan yang dihadapinya di bawah mistar gawang, sekaligus menggambarkan kemampuannya dalam menghadapi serangan lawan. Penampilan impresifnya di bawah mistar gawang juga menjadi katalis yang membantu Arema FC merangkak naik ke posisi yang lebih baik dengan memenangi lima pertandingan, lima seri, dan sembilan kekalahan.
Sayangnya, penampilan apik Julian Schwarzer itu belum cukup untuk mengangkat tim berjuluk Singo Edan dari zona merah. Di pertandingan terkahir sebelum jeda, pekan ke-23 Arema FC kalah 1-0 dari Barito Putera. Membuat tim tertahan di posisi ke-16 dengan perolehan 21 poin, terpaut empat poin dari Persis Solo yang berada di posisi ke-15.
