Kurniawan Dwi Yulianto Nilai Jepang Jadi Tim Paling Efektif di Piala Dunia 2026

Piala Presiden- Pelatih Timnas U-17 Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, memberikan apresiasi terhadap performa Timnas Jepang yang dinilainya sebagai salah satu tim paling efektif sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Menurutnya, permainan Samurai Biru mencerminkan perkembangan sepak bola modern yang lebih mengutamakan disiplin taktik dibanding mengandalkan kemampuan individu semata.

Jepang berhasil mencuri perhatian sejak fase grup. Bergabung di Grup F bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia, wakil Asia tersebut sukses mengamankan tiket ke babak 32 besar dengan status runner-up grup usai mengumpulkan lima poin. Hasil itu diraih setelah bermain imbang 2-2 melawan Belanda, menang telak 4-0 atas Tunisia, serta menahan Swedia dengan skor 1-1.

Capaian tersebut membuat Jepang tetap menjadi salah satu kekuatan Asia yang mampu bersaing di panggung sepak bola dunia. Bersama Australia, mereka menjadi dua wakil Benua Asia yang berhasil melanjutkan langkah ke fase gugur turnamen.

Jepang Jadi Tim Paling Efektif

Kurniawan menilai keberhasilan Jepang bukan hanya ditentukan oleh kualitas pemain, tetapi juga kemampuan seluruh anggota tim dalam menjalankan instruksi pelatih secara konsisten. Menurutnya, organisasi permainan yang rapi menjadi faktor utama di balik penampilan impresif Jepang selama turnamen berlangsung.

Meski tidak lagi diperkuat sejumlah nama besar yang sebelumnya menjadi andalan, Jepang tetap mampu menjaga kualitas permainan. Hal itu menunjukkan bahwa sistem yang dibangun pelatih menjadi fondasi utama, sehingga pergantian pemain tidak terlalu memengaruhi performa tim secara keseluruhan.

Mantan penyerang Timnas Indonesia tersebut juga melihat adanya perubahan karakter permainan di Piala Dunia 2026. Ia menilai sepak bola modern kini semakin menonjolkan strategi, koordinasi antarlini, serta kecerdasan membaca situasi pertandingan dibanding mengandalkan aksi individu.

Menurut Kurniawan, perkembangan tersebut membuat persaingan di level internasional semakin kompetitif. Setiap tim memiliki peluang yang relatif sama karena kemenangan lebih banyak ditentukan oleh efektivitas menjalankan taktik selama 90 menit pertandingan.

Ia menambahkan bahwa kondisi itu pula yang menyebabkan sejumlah negara unggulan mengalami kesulitan saat menghadapi lawan yang secara peringkat maupun kualitas dianggap berada di bawah mereka. Hasil-hasil mengejutkan yang terjadi sepanjang turnamen menjadi bukti bahwa sepak bola modern semakin sulit diprediksi.

Beberapa pertandingan bahkan memperlihatkan tim-tim favorit gagal meraih kemenangan. Spanyol harus puas berbagi poin saat menghadapi Tanjung Verde, sementara Portugal juga tidak mampu mengamankan kemenangan ketika berjumpa Republik Demokratik Kongo.